Kamis, 08 September 2016

Quran Only versus Quran Plus Plus

Mainstream muslim sejak dulu percaya bahwa umat harus berpegang tidak hanya kepada Al Quran yang diturunkan langsung kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril, namun juga kepada Sunnah Rasulullah, dimana sunnah-sunnah Nabi tersebut dapat ditemukan di dalam kitab-kitab hadits (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An Nasa'i, Ibnu Majah, Imam Ahmad, dll)

Namun, di akhir abad yang lalu (abad 20) terdapat suatu faham yang hanya mau beriman kepada Al Quran saja, dan mereka mengingkari sunnah Rasul yang terdapat di dalam kitab-kitab hadits. Mereka berargumen dari ayat Al Quran sendiri yang antara lain bahwa Al Quran itu adalah kitab yang jelas, kitab yang terperinci, dll sehingga Al Quran tidak membutuhkan kitab hadits atau kitab lainnya untuk menginterpretasikannya atau menafsirkannya. Salah satu pelopor dari faham "Quran Only" ini adalah Rashad Khalifa yang terkenal dengan penemuannya mengenai fenomena angka 19 di dalam Al Quran.

Beberapa belas tahun yang lalu, penulis sangat tertarik dengan ajaran "Quran Only" ini karena banyak argumen dari faham ini yang sepertinya sangat beralasan dan masuk akal. Oleh karena itu, penulis sering membaca-baca artikel dari faham ini, khususnya dari www.submission.org

Namun, seiring berjalannya waktu, penulis merasa bahwa ada beberapa poin dari aliran Quran Only ini yang tidak sreg bagi penulis. Diantaranya mengenai ketidakjelasan penerapan ayat Al Quran (seperti QS 5:38) serta status kehalalan beberapa jenis binatang seperti binatang buas, serta burung yang bercakar seperti burung elang dan burung gagak. Sudah beberapa kali penulis berdiskusi dengan penganut aliran Quran Only ini mengenai hal di atas, namun sampai dengan saat ini penulis belum mendapatkan penjelasan yang memuaskan dari mereka. Akhirnya penulis menyimpulkan bahwa walaupun dalam banyak hal argumen mereka sangat masuk akal, namun dalam beberapa hal yang lain, alasan-alasan yang mereka kemukakan tidak memuaskan akal penulis. Dengan kata lain, aliran mereka tidak sepenuhnya benar.

Saya pribadi meyakini bahwa Al Quran saja tidak cukup untuk menjelaskan halal-haramnya sutau makanan. Hal ini seperti disinyalir oleh sabda Nabi sebagai berikut:
Ingatlah sesungguhnya aku telah diberikan Al-Quran dan sesuatu sepertinya (yaitu As-Sunnah) bersamanya. Ingatlah hampir-hampir terjadi seseorang laki-laki kenyang (gemuk perutnya) yang duduk di kursi sofanya. Ia berseru kepada kalian: “Pegangilah Al-Quran ini! Maka yang kalian temukan di dalamnya sebagai perkara halal maka halalkanlah dan yang kalian temukan di dalamnya sebagai perkara haram maka haramkanlah!” (Kemudian Rasulullah  melanjutkan pesan beliau) “Ingatlah bahwa tidak halal bagi kalian daging keledai jinak, tidak halal pula setiap binatang buas yang bertaring ...  (HR Abu Dawud 3988, At Tirmidzi 2588)

Intinya, ada hal-hal tertentu yang diharamkan, atau setidaknya harus dijauhi untuk dimakan, namun ia tidak diterangkan secara jelas di dalam Al Quran.

Mengenai status keharaman binatang buas, hal ini telah cukup jelas diterangkan di dalam Kitab Taurat dan di kitab-kitab hadits. Walaupun saya bukan penggemar fanatik kitab-kitab hadits, namun saya pun juga bukan orang yang menolak hadits secara keseluruhan.

Saya percaya bahwa Al Quran membutuhkan kitab-kitab lain untuk menjelaskannya, dan kitab-kitab lain tersebut antara lain adalah Alkitab dan kitab-kitab hadits.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar