Selasa, 13 September 2016

Beriman kepada Kitab Sebelum Al Quran

Di dalam Al Quran terdapat sebuah ayat yang secara spesifik memerintahkan orang-orang beriman untuk beriman kepada kitab sebelum Al Quran. Ayat tersebut adalah sebagai berikut:
“Hai orang-orang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kadir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya ia telah sesat sejauh-jauhnya” (QS 4:136)

Kebanyakan muslim kurang memperhatikan ayat ini. Bagi kebanyakan muslim, beriman kepada kitab sebelum Al Quran berarti percaya bahwa dahulu Allah pernah menurunkan kitab Taurat, Injil, Zabur, dll kepada nabi-nabi terdahulu, namun sekarang kitab-kitab tersebut sudah tidak ada lagi. Adapun kitab suci umat Kristiani dan umat Yahudi yang ada pada saat ini sudah tidak murni lagi karena ia sudah diubah dan diedit, dan oleh karenanya kita umat muslim tidak perlu beriman kepada kitab mereka yang ada sekarang ini.

Saya pribadi tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat ini. Menurut saya, walaupun benar bahwa Alkitab yang ada sekarang ini sudah mengalami perubahan, namun jejak-jejak dari kitab terdahulu masih bisa kita dapatkan di dalam Alkitab. Bagi saya, agak aneh rasanya jika Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk beriman kepada sesuatu yang sudah tidak relevan lagi. Oleh karena itu saya percaya bahwa kitab yang Allah turunkan sebelum Al Quran yang dimaksud di dalam ayat di atas masih bisa ditelusuri jejak-jejaknya di dalam Alkitab yang ada sekarang, bahkan bisa dibaca dengan bacaan yang sebenarnya sebagaimana diindikasikan di dalam surah Al Baqarah ayat 121 sebagai berikut:
“Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan sebenarnya, mereka itulah yang beriman kepadanya ….” (QS 2:121)

Sekarang pertanyaannya adalah apakah yang dimaksud dengan kitab sebelum Al Quran pada ayat di atas? Apakah ia adalah Alkitab (The Bible)? Apakah ia Kitab Taurat? Apakah ia Kitab Injil? Ataukah ia Kitab Musa?

Perlu diperhatikan bahwa kata “kitab yang Dia turunkan sebelum Al Quran” pada ayat di atas menggunakan bentuk tunggal (singular), sehingga ia merupakan sebuah kitab, atau mungkin juga suatu kesatuan kitab seperti Alkitab. Yang jelas, ia bukanlah dua atau tiga kitab yang berbeda seperti Taurat dan Injil; atau Taurat, Injil, dan Zabur. Untuk membahas persoalan ini, ada baiknya kita mengetahui perbedaan antara Alkitab (The Bible), Kitab Taurat (Pentateuch), dan Kitab Musa.

Alkitab (The Bible)
Yang saya maksud dengan Alkitab di sini adalah kitab suci-nya umat Kristiani yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Alkitab ini pada umumnya terdiri dari 66 kitab, yaitu 39 kitab Perjanjian Lama ditambah dengan 27 kitab Perjanjian Baru.
Ketika menerjemahkan QS 4:136, Muhammad Sarwar yang merupakan seorang ulama  yang beraliran syiah menerjemahkannya sebagai berikut:
“Believers, have faith in God and His Messenger, the Book which is revealed to him and the Bible which has been revealed before” (QS 4:136)
Saya pribadi merasa kurang puas dengan terjemahan ini karena saya merasa ada yang kurang pas jika Allah memerintahkan kita orang-orang beriman untuk beriman kepada sesuatu yang mengandung banyak kontradiksi dengan Al Quran, bahkan ia memiliki banyak kontradiksi di dalam dirinya sendiri. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Alkitab ini telah mengalami berbagai pengubahan dan editan, dan banyak kontradiksi yang terdapat di dalam Alkitab itu sendiri. Dengan demikian, kemungkinan besar yang dimaksud dengan kitab sebelum Quran di dalam ayat di atas bukanlah Alkitab.

Kitab Taurat (Pentateuch)
Yang dinamakan kitab Taurat adalah lima kitab pertama yang terdapat di dalam Alkitab, yaitu Kitab Kejadian (Genesis), Kitab Keluaran (Exodus), Kitab Imamat (Leviticus), Kitab Bilangan (Numbers), dan Kitab Ulangan (Deuteronomy).
Banyak sarjana Alkitab (biblical scholars) saat ini yang menyatakan bahwa kitab Taurat ini bukan ditulis oleh Nabi Musa, melainkan oleh setidaknya empat orang yang berbeda, yang masing-masing disebut dengan J, E, P, dan D. Teori JEDP ini dikenal sebagai Documentary Hypothesis. Menurut para sarjana tersebut, Kitab Taurat mencapai formatnya seperti yang kita kenal sekarang ini pada sekitar abad ke-5 Masehi sebelum masehi, yaitu pada masa Ezra yang diduga kuat berperan sebagai redaktor (R) yang memegang peranan penting dalam menyusun susunan Kitab Taurat seperti yang ada sekarang ini.
Karena kitab Taurat ini ditulis oleh empat orang yang berbeda, maka tidak heran jika di dalam kitab Taurat ini kita akan menemukan banyak kontradiksi di dalamnya, belum lagi pengulangan-pengulangan kisah yang dikenal sebagai Doublets. Oleh karena itu, kecil kemungkinan rasanya bahwa yang dimaksud dengan “kitab sebelum Quran” di dalam ayat di atas adalah kitab Taurat yang ditulis oleh J, E, D, dan P ini.

Kitab Musa
Banyak muslim yang menyangka bahwa kitab Taurat itu diturunkan kepada Nabi Musa, dan kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa disebut dengan Kitab Taurat. Padahal, tidak ada satu pun ayat di dalam Al Quran yang menyatakan bahwa kitab Taurat itu diturunkan kepada Nabi Musa. Al Quran hanya menyebutkan bahwa Allah menurunkan (sebuah) kitab kepada Nabi Musa, namun ia tidak pernah menyatakan bahwa kitab tersebut bernama Taurat.

Ada beberapa alasan untuk mempercayai bahwa yang dimaksud dengan kitab yang diturunkan Allah sebelum Quran pada QS 4:136 ini adalah Kitab Musa tersebut. (Ingat, Kitab Musa bukan Kitab Taurat, namun ia hanyalah bagian kecil dari Kitab Taurat).

Dalil Qath’i
Dalil Qath’i di sini maksudnya dalil yang jelas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “kitab sebelum Quran” tsb adalah Kitab Musa.

a.      QS 46:12
Dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan (Al Quran) ini adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab ….”

b.      QS 46:30
Mereka (para jin) berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan apa yang [diturunkan] sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus”

c.      QS 11:17
“… dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat

d.      QS 28:48-49
Maka tatkala datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, “Mengapa tidak diberikan kepadanya (Muhammad) seperti yang telah diberikan kepada Musa dahulu?” Dan bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada apa yang diberikan kepada Musa dahulu? Mereka berkata, “Dua sihir yang bantu-membantu.” Dan mereka (juga) berkata, “Sesungguhnya kami tidak mempercayai masing-masing mereka itu.”
Katakanlah, “Datangkanlah olehmu sebuah kitab dari sisi Allah yang lebih dapat memberi petunjuk daripada keduanya (Kitab Musa dan Al Quran), niscaya aku mengikutinya, jika kamu sungguh-sungguh orang-orang yang benar.”

e.      QS 32:23
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa suatu Kitab, maka janganlah kamu (Muhammad) ragu-ragu menerimanya, dan Kami jadikan kitab itu petunjuk bagi bani Israil.

Dalil zhanni
Dalil zhanni maksudnya adalah dalil yang masih sebatas dugaan, atau argumen yang masih bisa diperdebatkan, bahwa yang dimaksud dengan kitab yang Allah turunkan sebelum Quran tersebut adalah Kitab Musa.

a.      QS 2:2
Kitab itu tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.
“Kitab itu” di dalam ayat di atas sering diterjemahkan sebagai “kitab ini” (yaitu Al Quran), padahal secara harfiah, “kitab itu” bukanlah “kitab ini” (Al Quran), melainkan ia seolah-oleh menunjuk kepada suatu kitab yang ada selain Al Quran.
Dalam tafsir At-Tabari terdapat pendapat seorang ulama terdahulu (Mawardi?) yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “Kitab itu” dalam ayat Al Baqarah di atas adalah kitab Taurat. Namun, seperti yang saya tulis sebelumnya bahwa banyak muslim yang tidak bisa membedakan antara Kitab Taurat dan Kitab Musa. Jadi, kemungkinan besar yang dimaksud dengan “Kitab itu” di dalam ayat di atas adalah “kitab Musa”. Bukan Taurat, dan bukan juga Al Quran.

b.      QS 10:37
Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah, akan tetapi ia membenarkan kitab yang sebelumnya dan menjelaskan kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, dari Tuhan semesta alam.
Ayat ini seolah-oleh menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “kitab itu” di dalam ayat Al Baqarah di atas adalah kitab sebelum Quran, karena ayat tsb menggunakan frase yang sama dengan ayat Al Baqarah di atas, yaitu “tidak ada keraguan padanya

c.      QS 6:91-92
Katakanlah, “Siapakah yang menurunkan kitab yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai berai …”
Dan (Al Quran) ini adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi, membenarkan kitab sebelumnya …
Berhubung pada ayat 91 telah disebut-sebut Kitab Musa, maka cukup beralasan jika kita menyimpulkan bahwa frase “kitab sebelumnya” pada ayat 92 mengacu kepada Kitab Musa tersebut.

Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah apakah yang dimaksud dengan Kitab Musa itu? Dan apakah Kitab Musa itu masih bisa ditemukan di dalam Alkitab yang sekarang ini? Jawaban singkat saya adalah Kitab Musa itu adalah bagian kecil yang terdapat di dalam Taurat, khususnya yang merupakan bagian dari Kitab Keluaran (Exodus) Pasal 20 s.d. Pasal 23.

Saya percaya bahwa apa yang tertulis di dalam Kitab Musa adalah sama dengan apa yang tertulis di dalam loh-loh batu (alwah) yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa. Dalilnya terdapat di dalam QS 6:154 yang harus dibandingkan dengan QS 7:145 dan 7:154.

QS 6:154:
Kemudian Kami telah memberikan Kitab kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu (wa tafsilal likulli syai’i) dan sebagai petunjuk dan rahmat (hudaw wa rahmah) agar mereka mengimani bahwa mereka akan menemui Tuhan mereka.

QS 7:145:
Dan Kami telah tuliskan untuk Musa pada loh-loh, segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu (wa tafsilal likulli syai’i) Berpegang teguhlah kepadanya dan suruhlah kaummu berpegang kepadanya dengan sebaik-baiknya.

QS 7:154:
Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya kembali loh-loh itu, dan di dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat (hudaw wa rahmah) untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.

Ayat QS 6:154 menggunakan frase yang sama persis seperti yang digunakan di dalam QS 7:145 dan 7:154, yaitu fungsi dari Kitab Musa sebagai penjelas bagi segala sesuatu serta petunjuk dan rahmat (wa tafsilal likulli syai’i wa hudaw wa rahmah). Walaupun di dalam QS 6:154 kata yang digunakan adalah “Kitab”, sedangkan di dalam QS 7:145 dan 154 kata yang digunakan adalah “loh-loh” (alwah), bukan tidak mungkin bahwa apa yang tertulis di dalam loh-loh batu tersebut kemudian disalin ulang ke dalam sebuah kitab dan ia berubah menjadi “Kitab Musa”.

Kemudian perlu diperhatikan juga bahwa di dalam surah Al Baqarah maupun di dalam surah Al A’raaf dinyatakan bahwa Allah memberikan Kitab (atau loh-loh) kepada Musa sebelum umat Israil membuat patung berupa anak lembu. Di dalam Alkitab, kisah pembuatan anak lembu emas tersebut terdapat di dalam Kitab Keluaran (Exodus) Pasal 32. Oleh karena itu cukup beralasan rasanya untuk menduga bahwa Kitab Musa tersebut kemungkinan besar terdapat di dalam Kitab Keluaran sebelum Pasal 32.

Sebelumnya saya sudah menyinggung bahwa menurut banyak sarjana Alkitab (biblical scholars) pendukung Documentary Hypothesis, Kitab Taurat ini ditulis oleh empat orang yang berbeda, yaitu masing-masing berinitial J, E, D, dan P. Namun ternyata tidak semua bagian dari kitab Taurat ini ditulis langsung oleh J, E, D, atau P; karena ada bagian-bagian tertentu yang tidak diketahui siapa penulisnya. Saya mencatat setidaknya ada tiga bagian di dalam kitab Taurat yang tidak diketahui siapa penulisnya. Ketiga bagian tersebut adalah Sepuluh Perintah Tuhan (the Ten Commandments) yang terdapat di dalam Kitab Keluaran pasal 20, Kitab Perjanjian (the Covenant Code) yang terdapat di dalam Kitab Keluaran pasal 21 s.d. pasal 23, serta the Holiness Code yang terdapat di dalam Kitab Imamat. Konon, ketiga bagian ini berasal dari naskah kuno yang telah ada sebelum era J,E, D, dan P, yang kemudian dimasukkan ke dalam kanon Taurat oleh penulis-penulis Taurat. Bukan tidak mungkin bahwa naskah tersebut memang bersumber dari Nabi Musa langsung.

Di dalam buku The Bible with Sources Revealed, Richard Eliott Friedman, ketika mengomentari Sepuluh Perintah (the Ten Commandments) yang terdapat dalam Kitab Keluaran 20 menuliskan, “The text of the Ten Commandments here does not appear to belong to any of the major sources. It is likely to be an independent document, which was inserted here by the Redactor.” (p. 153)
Teks dari Sepuluh Perintah pada bagian ini nampaknya tidak berasal dari sumber-sumber yang ada (J,E,D, atau P). Sepertinya ia merupakan dokumen tersendiri yang kemudian dimasukkan ke dalam teks di sini oleh Redaktor (R). (halaman 153)

Kemudian ketika mengomentari the Covenant Code, Mr Friedman menuliskan, “Exod 21:1 – 23:19 is a law code known as the Covenant Code. It was originally a separate, independent document, but it was used by the author of E as part of the E work.” (p. 154)
Kitab Keluaran 21: 1 – 23:19 adalah kode hukum yang dikenal sebagai Kitab Perjanjian. Pada awalnya ia merupakan bagian tersendiri dan merupakan sebuah naskah yang independen, namun kemudian ia digunakan oleh penulis E sebagai bagian dari tulisan E. (halaman 154)

Oleh karena itu, cukup masuk akal rasanya jika kita mengasumsikan bahwa Sepuluh Perintah dan the Covenant Code itulah (kitab) yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa.

Mengimani Kitab Musa
Bagaimana cara kita untuk mengimani Kitab sebelum Quran, yaitu Kitab Musa tersebut?
Menurut saya, adalah dengan cara mempercayainya dan tidak melecehkannya, serta berprasangka baik kepadanya bahwa Kitab Musa yang kemudian diabadikan di dalam Alkitab, yaitu bagian-bagian yang memuat the Ten Commandments dan the Covenant Code tersebut, adalah benar berasal dari Tuhan, dan bagian-bagian tersebut pun terjaga sampai sekarang. Lebih lanjut lagi, barangkali kita dapat membacanya dengan bacaan sebenarnya untuk mengejawantahkan keimanan kitab terhadap kitab yang Allah turunkan sebelum Al Quran, sebagaimana diisyaratkan di dalam surah Al Baqarah ayat 121:
“Orang-orang yang telah Kami berikan Alkitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itulah yang beriman kepadanya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar