Rabu, 14 September 2016

Believe in the Scripture Before the Quran

In the Holy Koran, there is a particular verse that command the believers to believe in the Book before the Quran.
"O you who believe, believe in Allah and His Messenger, and the Book which He sent down upon His Messenger, and the Book which He sent down earlier. And whoever disbelieves in Allah, and His Angels, and His Books, and His Messengers, and the Last Day, then he has certainly gone far astray." (the Quran 4:136)

“The Book which He sent down earlier” or “the Scripture which He sent down before” is in singular form, which means that there is “only” one Book that every believer has to believe in other than the Quran. But which one? There are many books that had been sent down before Muhammad. The Torah, Psalms, and the Gospel, to name a few; not to mention the books that were given to the Prophets like Isaiah, Jeremiah, Ezekiel, Jonah, etc.

To identify which book that the Quran talked about in the verse above, we have to look in some other verses:
1. “And before it (the Quran) was the Scripture of Moses to lead and as a mercy. And this is a confirming Book in an Arabic tongue to warn those who have wronged and as good tidings to the doers of good.” (the Quran 46:12)
2. They said, "O our people, indeed we have heard a Book revealed after Moses (that is the Quran) confirming what was before it which guides to the truth and to a straight path. (the Quran 46:30)
3. Is he then who has with him clear proof from his Lord, and a witness from Him recites it and before it (the Quran) is the Book of Moses, a guide and a mercy? (the Quran 11:17)
4. But when the truth came to them from Us, they said, "Why was he not given like that which was given to Moses?" Did they not disbelieve in that which was given to Moses before? They said, "[They are but] two works of magic supporting each other, and indeed we are, in both, disbelievers." Say, "Then bring a scripture from Allah which is more guiding than either of them (the Quran and the Book of Moses) that I may follow it, if you should be truthful." (the Quran 28:48-49)
5. And indeed, We already brought Moses the Book; so do not go into wrangling about receiving it; and We made it for a guidance to the sons of Israel (the Quran 32:23)

From the verses above we can conclude that the Book or the Scripture before the Quran is the Book of Moses. Now the question is, what is the Book of Moses? Is it the Torah, or is is something else other than the Torah?

Many believe that the Torah is the Book that was given to Moses, and the Book that was given to Moses is called the Torah. This is a false assumption. Never in the Quran that the Book given to Moses is called the Torah, and the Quran never states that the Torah is given to Moses. The Quran simply says that the Torah is sent down to the sons of Israel, but not to Moses the prophet. So, we must distinguish between the Torah and the Book of Moses.

The Torah is the first five books in the Bible, that is Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, and Deuteronomy. According to the Documentary Hypothesis, the Torah is not written by Moses himself, but by several authors whom they call as J, E, D, and P. That can explain why there are some contradictions and the doublets in the Bible, particularly in the Torah, such as how many pair(s) of animals that were in the ark of Noah: one pair or seven pairs, who sold Joseph: the brothers, the Midianites, or the Ishmaelites, why did they told the story of the quails twice, and so on.
Since there are contradictions and doublets in the Torah, we can conclude that the Torah is not written by Moses. So we can say that the Book of Moses that the Quran talked about is not the Torah.

So, what is actually the Book of Moses?
I believe that what is written in the Book of Moses is almost identical to what is written on the Tablets (Arabic: alwah). In surah Al A’raf, it is stated that God gave the Tablets to Moses, where instruction and explanation for all things were written on it (the Quran 7:145). It is worth noting that in the surah Al An’am 154, the verse uses the exact phrase watafseelanlikulli shay-in (The Quran 6:154). Therefore, it is very likely that the what was written in the Book of Moses as described in the Quran 154 is the same as what was written in the Tablets mentioned in the Quran 7:145 and 7:154.

What was written in the Book of Moses?
Previously, I mentioned that according to the Documentary Hypothesis, the Torah is written by at least four different authors whom they call as J, E, D, and P. Well, actually not all of parts of the Torah is written by those four. At least three parts of the Torah is not written by them. Those parts are the Ten Commandments in Exodus 20, the Covenant Code in Exodus 21-23, and the Holiness Code in Leviticus.

In The Bible with Sources Revealed, on commentary on the Ten Commandments in Exodus, Richard Elliott Friedman wrote, “The text of the Ten Commandments here does not appear to belong to any of the major sources (that is it’s not from J, E, P, or D). It is likely to be an independent document, which was inserted here by the Redactor". Furthermore, Mr. Friedman added, “Exod 21:1-23:19 is a law code known as the Covenant Code. It was originally a separate, independent document, but it was used by the author of E as part of the work of E."

It is likely that both the Ten Commandments and the Covenant Code are two parts that were originally from much older text than any of J, E, P, and D documents. It is possible that those two parts were copied from the Book of Moses. 

I believe that both the Ten Commandments and the Covenant Code in Exodus are part of the Book of Moses. I also believe that those two parts are preserved from fraud, editing, changing, etc. Maybe the other parts of the Bible are not free from errors, fraud, contradictions etc, but not those two parts. That’s why the Quran still confirms the previous book (i.e. the Book of Moses), and that’s why the believers are commanded to believe in the previous Scripture (the Book of Moses).

Selasa, 13 September 2016

Beriman kepada Kitab Sebelum Al Quran

Di dalam Al Quran terdapat sebuah ayat yang secara spesifik memerintahkan orang-orang beriman untuk beriman kepada kitab sebelum Al Quran. Ayat tersebut adalah sebagai berikut:
“Hai orang-orang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kadir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya ia telah sesat sejauh-jauhnya” (QS 4:136)

Kebanyakan muslim kurang memperhatikan ayat ini. Bagi kebanyakan muslim, beriman kepada kitab sebelum Al Quran berarti percaya bahwa dahulu Allah pernah menurunkan kitab Taurat, Injil, Zabur, dll kepada nabi-nabi terdahulu, namun sekarang kitab-kitab tersebut sudah tidak ada lagi. Adapun kitab suci umat Kristiani dan umat Yahudi yang ada pada saat ini sudah tidak murni lagi karena ia sudah diubah dan diedit, dan oleh karenanya kita umat muslim tidak perlu beriman kepada kitab mereka yang ada sekarang ini.

Saya pribadi tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat ini. Menurut saya, walaupun benar bahwa Alkitab yang ada sekarang ini sudah mengalami perubahan, namun jejak-jejak dari kitab terdahulu masih bisa kita dapatkan di dalam Alkitab. Bagi saya, agak aneh rasanya jika Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk beriman kepada sesuatu yang sudah tidak relevan lagi. Oleh karena itu saya percaya bahwa kitab yang Allah turunkan sebelum Al Quran yang dimaksud di dalam ayat di atas masih bisa ditelusuri jejak-jejaknya di dalam Alkitab yang ada sekarang, bahkan bisa dibaca dengan bacaan yang sebenarnya sebagaimana diindikasikan di dalam surah Al Baqarah ayat 121 sebagai berikut:
“Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan sebenarnya, mereka itulah yang beriman kepadanya ….” (QS 2:121)

Sekarang pertanyaannya adalah apakah yang dimaksud dengan kitab sebelum Al Quran pada ayat di atas? Apakah ia adalah Alkitab (The Bible)? Apakah ia Kitab Taurat? Apakah ia Kitab Injil? Ataukah ia Kitab Musa?

Perlu diperhatikan bahwa kata “kitab yang Dia turunkan sebelum Al Quran” pada ayat di atas menggunakan bentuk tunggal (singular), sehingga ia merupakan sebuah kitab, atau mungkin juga suatu kesatuan kitab seperti Alkitab. Yang jelas, ia bukanlah dua atau tiga kitab yang berbeda seperti Taurat dan Injil; atau Taurat, Injil, dan Zabur. Untuk membahas persoalan ini, ada baiknya kita mengetahui perbedaan antara Alkitab (The Bible), Kitab Taurat (Pentateuch), dan Kitab Musa.

Alkitab (The Bible)
Yang saya maksud dengan Alkitab di sini adalah kitab suci-nya umat Kristiani yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Alkitab ini pada umumnya terdiri dari 66 kitab, yaitu 39 kitab Perjanjian Lama ditambah dengan 27 kitab Perjanjian Baru.
Ketika menerjemahkan QS 4:136, Muhammad Sarwar yang merupakan seorang ulama  yang beraliran syiah menerjemahkannya sebagai berikut:
“Believers, have faith in God and His Messenger, the Book which is revealed to him and the Bible which has been revealed before” (QS 4:136)
Saya pribadi merasa kurang puas dengan terjemahan ini karena saya merasa ada yang kurang pas jika Allah memerintahkan kita orang-orang beriman untuk beriman kepada sesuatu yang mengandung banyak kontradiksi dengan Al Quran, bahkan ia memiliki banyak kontradiksi di dalam dirinya sendiri. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Alkitab ini telah mengalami berbagai pengubahan dan editan, dan banyak kontradiksi yang terdapat di dalam Alkitab itu sendiri. Dengan demikian, kemungkinan besar yang dimaksud dengan kitab sebelum Quran di dalam ayat di atas bukanlah Alkitab.

Kitab Taurat (Pentateuch)
Yang dinamakan kitab Taurat adalah lima kitab pertama yang terdapat di dalam Alkitab, yaitu Kitab Kejadian (Genesis), Kitab Keluaran (Exodus), Kitab Imamat (Leviticus), Kitab Bilangan (Numbers), dan Kitab Ulangan (Deuteronomy).
Banyak sarjana Alkitab (biblical scholars) saat ini yang menyatakan bahwa kitab Taurat ini bukan ditulis oleh Nabi Musa, melainkan oleh setidaknya empat orang yang berbeda, yang masing-masing disebut dengan J, E, P, dan D. Teori JEDP ini dikenal sebagai Documentary Hypothesis. Menurut para sarjana tersebut, Kitab Taurat mencapai formatnya seperti yang kita kenal sekarang ini pada sekitar abad ke-5 Masehi sebelum masehi, yaitu pada masa Ezra yang diduga kuat berperan sebagai redaktor (R) yang memegang peranan penting dalam menyusun susunan Kitab Taurat seperti yang ada sekarang ini.
Karena kitab Taurat ini ditulis oleh empat orang yang berbeda, maka tidak heran jika di dalam kitab Taurat ini kita akan menemukan banyak kontradiksi di dalamnya, belum lagi pengulangan-pengulangan kisah yang dikenal sebagai Doublets. Oleh karena itu, kecil kemungkinan rasanya bahwa yang dimaksud dengan “kitab sebelum Quran” di dalam ayat di atas adalah kitab Taurat yang ditulis oleh J, E, D, dan P ini.

Kitab Musa
Banyak muslim yang menyangka bahwa kitab Taurat itu diturunkan kepada Nabi Musa, dan kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa disebut dengan Kitab Taurat. Padahal, tidak ada satu pun ayat di dalam Al Quran yang menyatakan bahwa kitab Taurat itu diturunkan kepada Nabi Musa. Al Quran hanya menyebutkan bahwa Allah menurunkan (sebuah) kitab kepada Nabi Musa, namun ia tidak pernah menyatakan bahwa kitab tersebut bernama Taurat.

Ada beberapa alasan untuk mempercayai bahwa yang dimaksud dengan kitab yang diturunkan Allah sebelum Quran pada QS 4:136 ini adalah Kitab Musa tersebut. (Ingat, Kitab Musa bukan Kitab Taurat, namun ia hanyalah bagian kecil dari Kitab Taurat).

Dalil Qath’i
Dalil Qath’i di sini maksudnya dalil yang jelas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “kitab sebelum Quran” tsb adalah Kitab Musa.

a.      QS 46:12
Dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan (Al Quran) ini adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab ….”

b.      QS 46:30
Mereka (para jin) berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan apa yang [diturunkan] sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus”

c.      QS 11:17
“… dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat

d.      QS 28:48-49
Maka tatkala datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, “Mengapa tidak diberikan kepadanya (Muhammad) seperti yang telah diberikan kepada Musa dahulu?” Dan bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada apa yang diberikan kepada Musa dahulu? Mereka berkata, “Dua sihir yang bantu-membantu.” Dan mereka (juga) berkata, “Sesungguhnya kami tidak mempercayai masing-masing mereka itu.”
Katakanlah, “Datangkanlah olehmu sebuah kitab dari sisi Allah yang lebih dapat memberi petunjuk daripada keduanya (Kitab Musa dan Al Quran), niscaya aku mengikutinya, jika kamu sungguh-sungguh orang-orang yang benar.”

e.      QS 32:23
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa suatu Kitab, maka janganlah kamu (Muhammad) ragu-ragu menerimanya, dan Kami jadikan kitab itu petunjuk bagi bani Israil.

Dalil zhanni
Dalil zhanni maksudnya adalah dalil yang masih sebatas dugaan, atau argumen yang masih bisa diperdebatkan, bahwa yang dimaksud dengan kitab yang Allah turunkan sebelum Quran tersebut adalah Kitab Musa.

a.      QS 2:2
Kitab itu tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.
“Kitab itu” di dalam ayat di atas sering diterjemahkan sebagai “kitab ini” (yaitu Al Quran), padahal secara harfiah, “kitab itu” bukanlah “kitab ini” (Al Quran), melainkan ia seolah-oleh menunjuk kepada suatu kitab yang ada selain Al Quran.
Dalam tafsir At-Tabari terdapat pendapat seorang ulama terdahulu (Mawardi?) yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “Kitab itu” dalam ayat Al Baqarah di atas adalah kitab Taurat. Namun, seperti yang saya tulis sebelumnya bahwa banyak muslim yang tidak bisa membedakan antara Kitab Taurat dan Kitab Musa. Jadi, kemungkinan besar yang dimaksud dengan “Kitab itu” di dalam ayat di atas adalah “kitab Musa”. Bukan Taurat, dan bukan juga Al Quran.

b.      QS 10:37
Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah, akan tetapi ia membenarkan kitab yang sebelumnya dan menjelaskan kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, dari Tuhan semesta alam.
Ayat ini seolah-oleh menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “kitab itu” di dalam ayat Al Baqarah di atas adalah kitab sebelum Quran, karena ayat tsb menggunakan frase yang sama dengan ayat Al Baqarah di atas, yaitu “tidak ada keraguan padanya

c.      QS 6:91-92
Katakanlah, “Siapakah yang menurunkan kitab yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai berai …”
Dan (Al Quran) ini adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi, membenarkan kitab sebelumnya …
Berhubung pada ayat 91 telah disebut-sebut Kitab Musa, maka cukup beralasan jika kita menyimpulkan bahwa frase “kitab sebelumnya” pada ayat 92 mengacu kepada Kitab Musa tersebut.

Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah apakah yang dimaksud dengan Kitab Musa itu? Dan apakah Kitab Musa itu masih bisa ditemukan di dalam Alkitab yang sekarang ini? Jawaban singkat saya adalah Kitab Musa itu adalah bagian kecil yang terdapat di dalam Taurat, khususnya yang merupakan bagian dari Kitab Keluaran (Exodus) Pasal 20 s.d. Pasal 23.

Saya percaya bahwa apa yang tertulis di dalam Kitab Musa adalah sama dengan apa yang tertulis di dalam loh-loh batu (alwah) yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa. Dalilnya terdapat di dalam QS 6:154 yang harus dibandingkan dengan QS 7:145 dan 7:154.

QS 6:154:
Kemudian Kami telah memberikan Kitab kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu (wa tafsilal likulli syai’i) dan sebagai petunjuk dan rahmat (hudaw wa rahmah) agar mereka mengimani bahwa mereka akan menemui Tuhan mereka.

QS 7:145:
Dan Kami telah tuliskan untuk Musa pada loh-loh, segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu (wa tafsilal likulli syai’i) Berpegang teguhlah kepadanya dan suruhlah kaummu berpegang kepadanya dengan sebaik-baiknya.

QS 7:154:
Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya kembali loh-loh itu, dan di dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat (hudaw wa rahmah) untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.

Ayat QS 6:154 menggunakan frase yang sama persis seperti yang digunakan di dalam QS 7:145 dan 7:154, yaitu fungsi dari Kitab Musa sebagai penjelas bagi segala sesuatu serta petunjuk dan rahmat (wa tafsilal likulli syai’i wa hudaw wa rahmah). Walaupun di dalam QS 6:154 kata yang digunakan adalah “Kitab”, sedangkan di dalam QS 7:145 dan 154 kata yang digunakan adalah “loh-loh” (alwah), bukan tidak mungkin bahwa apa yang tertulis di dalam loh-loh batu tersebut kemudian disalin ulang ke dalam sebuah kitab dan ia berubah menjadi “Kitab Musa”.

Kemudian perlu diperhatikan juga bahwa di dalam surah Al Baqarah maupun di dalam surah Al A’raaf dinyatakan bahwa Allah memberikan Kitab (atau loh-loh) kepada Musa sebelum umat Israil membuat patung berupa anak lembu. Di dalam Alkitab, kisah pembuatan anak lembu emas tersebut terdapat di dalam Kitab Keluaran (Exodus) Pasal 32. Oleh karena itu cukup beralasan rasanya untuk menduga bahwa Kitab Musa tersebut kemungkinan besar terdapat di dalam Kitab Keluaran sebelum Pasal 32.

Sebelumnya saya sudah menyinggung bahwa menurut banyak sarjana Alkitab (biblical scholars) pendukung Documentary Hypothesis, Kitab Taurat ini ditulis oleh empat orang yang berbeda, yaitu masing-masing berinitial J, E, D, dan P. Namun ternyata tidak semua bagian dari kitab Taurat ini ditulis langsung oleh J, E, D, atau P; karena ada bagian-bagian tertentu yang tidak diketahui siapa penulisnya. Saya mencatat setidaknya ada tiga bagian di dalam kitab Taurat yang tidak diketahui siapa penulisnya. Ketiga bagian tersebut adalah Sepuluh Perintah Tuhan (the Ten Commandments) yang terdapat di dalam Kitab Keluaran pasal 20, Kitab Perjanjian (the Covenant Code) yang terdapat di dalam Kitab Keluaran pasal 21 s.d. pasal 23, serta the Holiness Code yang terdapat di dalam Kitab Imamat. Konon, ketiga bagian ini berasal dari naskah kuno yang telah ada sebelum era J,E, D, dan P, yang kemudian dimasukkan ke dalam kanon Taurat oleh penulis-penulis Taurat. Bukan tidak mungkin bahwa naskah tersebut memang bersumber dari Nabi Musa langsung.

Di dalam buku The Bible with Sources Revealed, Richard Eliott Friedman, ketika mengomentari Sepuluh Perintah (the Ten Commandments) yang terdapat dalam Kitab Keluaran 20 menuliskan, “The text of the Ten Commandments here does not appear to belong to any of the major sources. It is likely to be an independent document, which was inserted here by the Redactor.” (p. 153)
Teks dari Sepuluh Perintah pada bagian ini nampaknya tidak berasal dari sumber-sumber yang ada (J,E,D, atau P). Sepertinya ia merupakan dokumen tersendiri yang kemudian dimasukkan ke dalam teks di sini oleh Redaktor (R). (halaman 153)

Kemudian ketika mengomentari the Covenant Code, Mr Friedman menuliskan, “Exod 21:1 – 23:19 is a law code known as the Covenant Code. It was originally a separate, independent document, but it was used by the author of E as part of the E work.” (p. 154)
Kitab Keluaran 21: 1 – 23:19 adalah kode hukum yang dikenal sebagai Kitab Perjanjian. Pada awalnya ia merupakan bagian tersendiri dan merupakan sebuah naskah yang independen, namun kemudian ia digunakan oleh penulis E sebagai bagian dari tulisan E. (halaman 154)

Oleh karena itu, cukup masuk akal rasanya jika kita mengasumsikan bahwa Sepuluh Perintah dan the Covenant Code itulah (kitab) yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa.

Mengimani Kitab Musa
Bagaimana cara kita untuk mengimani Kitab sebelum Quran, yaitu Kitab Musa tersebut?
Menurut saya, adalah dengan cara mempercayainya dan tidak melecehkannya, serta berprasangka baik kepadanya bahwa Kitab Musa yang kemudian diabadikan di dalam Alkitab, yaitu bagian-bagian yang memuat the Ten Commandments dan the Covenant Code tersebut, adalah benar berasal dari Tuhan, dan bagian-bagian tersebut pun terjaga sampai sekarang. Lebih lanjut lagi, barangkali kita dapat membacanya dengan bacaan sebenarnya untuk mengejawantahkan keimanan kitab terhadap kitab yang Allah turunkan sebelum Al Quran, sebagaimana diisyaratkan di dalam surah Al Baqarah ayat 121:
“Orang-orang yang telah Kami berikan Alkitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itulah yang beriman kepadanya.”

Kamis, 08 September 2016

Quran Only versus Quran Plus Plus

Mainstream muslim sejak dulu percaya bahwa umat harus berpegang tidak hanya kepada Al Quran yang diturunkan langsung kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril, namun juga kepada Sunnah Rasulullah, dimana sunnah-sunnah Nabi tersebut dapat ditemukan di dalam kitab-kitab hadits (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An Nasa'i, Ibnu Majah, Imam Ahmad, dll)

Namun, di akhir abad yang lalu (abad 20) terdapat suatu faham yang hanya mau beriman kepada Al Quran saja, dan mereka mengingkari sunnah Rasul yang terdapat di dalam kitab-kitab hadits. Mereka berargumen dari ayat Al Quran sendiri yang antara lain bahwa Al Quran itu adalah kitab yang jelas, kitab yang terperinci, dll sehingga Al Quran tidak membutuhkan kitab hadits atau kitab lainnya untuk menginterpretasikannya atau menafsirkannya. Salah satu pelopor dari faham "Quran Only" ini adalah Rashad Khalifa yang terkenal dengan penemuannya mengenai fenomena angka 19 di dalam Al Quran.

Beberapa belas tahun yang lalu, penulis sangat tertarik dengan ajaran "Quran Only" ini karena banyak argumen dari faham ini yang sepertinya sangat beralasan dan masuk akal. Oleh karena itu, penulis sering membaca-baca artikel dari faham ini, khususnya dari www.submission.org

Namun, seiring berjalannya waktu, penulis merasa bahwa ada beberapa poin dari aliran Quran Only ini yang tidak sreg bagi penulis. Diantaranya mengenai ketidakjelasan penerapan ayat Al Quran (seperti QS 5:38) serta status kehalalan beberapa jenis binatang seperti binatang buas, serta burung yang bercakar seperti burung elang dan burung gagak. Sudah beberapa kali penulis berdiskusi dengan penganut aliran Quran Only ini mengenai hal di atas, namun sampai dengan saat ini penulis belum mendapatkan penjelasan yang memuaskan dari mereka. Akhirnya penulis menyimpulkan bahwa walaupun dalam banyak hal argumen mereka sangat masuk akal, namun dalam beberapa hal yang lain, alasan-alasan yang mereka kemukakan tidak memuaskan akal penulis. Dengan kata lain, aliran mereka tidak sepenuhnya benar.

Saya pribadi meyakini bahwa Al Quran saja tidak cukup untuk menjelaskan halal-haramnya sutau makanan. Hal ini seperti disinyalir oleh sabda Nabi sebagai berikut:
Ingatlah sesungguhnya aku telah diberikan Al-Quran dan sesuatu sepertinya (yaitu As-Sunnah) bersamanya. Ingatlah hampir-hampir terjadi seseorang laki-laki kenyang (gemuk perutnya) yang duduk di kursi sofanya. Ia berseru kepada kalian: “Pegangilah Al-Quran ini! Maka yang kalian temukan di dalamnya sebagai perkara halal maka halalkanlah dan yang kalian temukan di dalamnya sebagai perkara haram maka haramkanlah!” (Kemudian Rasulullah  melanjutkan pesan beliau) “Ingatlah bahwa tidak halal bagi kalian daging keledai jinak, tidak halal pula setiap binatang buas yang bertaring ...  (HR Abu Dawud 3988, At Tirmidzi 2588)

Intinya, ada hal-hal tertentu yang diharamkan, atau setidaknya harus dijauhi untuk dimakan, namun ia tidak diterangkan secara jelas di dalam Al Quran.

Mengenai status keharaman binatang buas, hal ini telah cukup jelas diterangkan di dalam Kitab Taurat dan di kitab-kitab hadits. Walaupun saya bukan penggemar fanatik kitab-kitab hadits, namun saya pun juga bukan orang yang menolak hadits secara keseluruhan.

Saya percaya bahwa Al Quran membutuhkan kitab-kitab lain untuk menjelaskannya, dan kitab-kitab lain tersebut antara lain adalah Alkitab dan kitab-kitab hadits.


Senin, 05 September 2016

Dalil untuk mempelajari Alkitab

1. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS 96:1-5)

2. Bawalah kepadaku kitab yang sebelum ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang terdahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar. (QS 46:4)

3. Datangkanlah olehmu sebuah kitab dari sisi Allah yang lebih (dapat)memberi petunjuk daripada keduanya (Kitab Musa dan Al Quran), niscaya aku akan mengikutinya, jika kamu adalah orang-orang yang benar (QS 28:49)

4. Sesungguhnya Kami telah menurunkan  Taurat di dalamnya ada petunjuk dan cahaya yang menerangi .... (QS 5:44)

5. Dan kami telah memberikan kepadanya (Nabi Isa) Injil sedang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya (yang menerangi) .... dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (QS 5:46)

6. Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya yaitu Kitab dan batu ujian terhadap kitab yang lain itu. (QS 5:48)

7. Hai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya dan Kitab yang Allah turunkan sebelumnya. (QS 4:136)

8. Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yaqub serta anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. (QS 2:136, 3:84)

9. Dan mereka yang beriman kepada Kitab yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu .... (QS 2:4)

10. Berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan yang membenarkan apa yang ada padamu ... (QS 2:41)

11. Al Quran itu adalah (kitab) yang hak yang membenarkan apa yang ada pada mereka ... (QS 2:91, bandingkan juga dengan 2:89)

12. Kami telah beriman kepada apa yang dirunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada kamu (QS 29:46)

13. Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita) (QS 42:15)

14. "Orang-orang yang telah Kami berikan Alkitab, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya" (QS 2:121)

15. Kalimat hikmah itu adalah milik orang beriman, maka hendaklah ia mengambilnya di mana saja ia menemukannya (Sunan At Tirmidzi), bandingkan dengan Nahjul Balaghah Hikmah #79 dan 80.

16. [Ibnu Abbas] pernah menceritakan kepadanya dari [Maimunah] bahwa seekor tikus terjatuh di minyak samin dan mati, lantas Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ditanya mengenai hal itu, beliau bersabda: "Buanglah tikus itu dan sesuatu yang ada di sekitarnya, lalu makanlah minyak samin tersebut." (al hadits)