Senin, 29 Agustus 2016

Mempertanyakan Doktrin Agama

Sejak kecil, sebagian dari kita yang beragama Islam telah dicekoki berbagai doktrin agama, misalnya Islam adalah satu-satunya [syariat] agama yang benar, Al Quran yang beredar pada saat ini adalah sama persis dengan Al Quran yang ada pada jaman Nabi dan tidak berubah satu huruf pun, kemudian Al Quran terdiri dari 114 surat, dan 6666 ayat, Rukun Islam ada 5, Rukun Iman ada 6, Malaikat ada 10, Nabi dan Rasul ada 25, dlsb.

Mungkin saja sebagian dari doktrin agama tersebut adalah benar, mungkin juga tidak benar.
Nah, permasalahannya sekarang adalah menentukan mana doktrin yang benar, dan mana doktrin yang menyesatkan? Pertanyaan-pertanyaan seputar masalah ini sering menghantui pikiran saya.

Sejak beberapa tahun yang lalu saya sudah mengetahui bahwa jumlah ayat Al Quran bukanlah 6666 ayat seperti yang dikatakan oleh guru agama saya. Jumlah ayat pada mushaf Utsmani ternyata "hanya" sekitar 6236 ayat saja, tidak sampai 6666. Lalu, darimana doktrin yang mengatakan bahwa jumlah ayat Al Quran itu 6666 muncul??? Saya tidak tahu.

Kemudian pertanyaan beralih kepada pertanyaan selanjutnya yang jauh lebih berat dan lebih berbahaya: Apakah mushaf Utsmani yang kita pegang sekarang (khususnya versi Hafs qiroat Ashim) adalah sama persis dengan Al Quran yang beredar pada masa Nabi?
Atau lebih spesifik lagi, ada riwayat yang menyatakan bahwa konon katanya sesudah Nabi meninggal, hal pertama yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib adalah mencatat Al Quran, dan konon katanya Ali menyusun Al Quran sesuai dengan chronological order, yang artinya surat pertama adalah Al Alaq 1-5. Selain mushaf Ali, ada juga beberapa sahabat yang menyusun Quran sendiri, sebut saja misalnya Ibnu Mas'ud dan Ubay bin Ka'ab.
Nah, pertanyaannya adalah, apakah mushaf Utsmani yang kita pegang sekarang ini sama persis dengan mushaf Ali, mushaf Ibnu Mas'ud, dan mushaf Ubay bin Ka'ab? Menurut berbagai hadits yang terdapat dalam sahih Bukhari dll, ternyata ada sejumlah perbedaan antara bacaan versi Ibnu Mas'ud dengan bacaan yang kita kenal sekarang. Misalnya surat Al Lail versi Ibnu Mas'ud konon katanya menghapus kata "ma khalaqa" pada ayat ketiga, sehingga ayat tsb menjadi "wadz dzakara wal untsa".
Sementara pada hadits lain disebutkan bahwa Nabi pernah berpesan kepada sahabatnya agar belajar Al Quran dari empat orang, dua diantaranya adalah Ibnu Mas'ud dan Ubay bin Ka'ab.

Timbul pertanyaan, kenapa ketika Utsman bin Affan ingin membukukan Al Quran, beliau tidak menggunakan Ibnu Mas'ud dan Ubay bin Ka'ab sebagai referensi utamanya? Utsman malah menunjuk Zaid bin Tsabit yang relatif masih muda sebagai "ketua panitia" dalam penyusunan Al Quran.
Jadi, apakah mushaf Utsmani versi Zaid bin Tsabit tsb sama persis dengan mushaf versi Ibnu Mas'ud, Ubay bin Ka'ab, dan Ali bin Abu Thalib?
Yang jelas, ketika Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai khalifah, setahu saya beliau tidak pernah mempermasalahkan mushaf Utsmani, walaupun mungkin saja Mushaf Utsmani tidak 100% sama dengan mushaf Ibnu Mas'ud, mushaf Ubay, bahkan mushaf Ali sekalipun. Artinya, sekalipun mungkin terdapat perbedaan antara mushaf Utsmani dan mushaf Ali, nampaknya perbedaan tersebut tidaklah signifikan.

Pertanyaan lain yang pernah menghantui saya selama beberapa tahun adalah mengenai takdir. Apakah benar takdir dalam pengertian predestination itu ada, dan apakah benar bahwa takdir itu merupakan bagian dari rukun iman yang 6, sehingga ia wajib diimani oleh setiap muslim?
Kemudian saya mendapati bahwa ternyata rukun iman yang enam itu hanya ada di dalam kitab hadits. Sedangkan Al Quran sendiri ketika menyebutkan "rukun" iman, ia hanya menyebutkan lima saja, yaitu iman kepada Allah, Malaikat, Nabi/Rasul, Kitab, dan Hari Akhir (QS 2:177, 4:136). Dengan kata lain, Al Quran tidak pernah menyatakan iman kepada takdir sebagai bagian dari rukun iman.
Yang jelas, saat ini saya merasa lebih aman untuk percaya kepada free will daripada predestination.
Darimana dalilnya untuk percaya kepada free will dan bukan kepada predestination? Dalilnya antara lain dari Alkitab Perjanjian Lama khususnya Kitab Yehezkiel.

Kemudian topik selanjutnya adalah Iman kepada Kitab Allah.
Di dalam QS 2:177, Iman kepada Kitab itu dinyatakan dalam bentuk tunggal/singular, yaitu satu Kitab. Namun, di dalam QS 4:136, iman kepada kitab itu dinyatakan dalam bentuk jamak/plural, yaitu kitab-kitab. Begitu juga di ayat 2:285 misalnya, kitab itu dinyatakan dalam bentuk jamak.
Permasalahannya, kalau misalnya kitab itu memang dalam bentuk jamak/plural, apakah implikasinya? Apakah kita cukup percaya saja bahwa Kitab Musa, Injil, dlsb tsb benar-benar pernah ada dan diturunkan oleh Allah, namun karena satu dan lain hal, kitab-kitab asli tersebut sekarang sudah hilang, sehingga kita tidak perlu mengimaninya lagi? Saya merasakan bahwa saat ini mainstream muslim percaya bahwa beriman kepada Kitab sebelum Al Quran itu (QS 4:136) seperti beriman kepada sesuatu yang ghaib, karena kitab sebelum Quran yang beredar pada saat ini (yaitu Bible/Alkitab) sudah tidak murni lagi melainkan sudah diedit oleh orang-orang terdahulu, sehingga ia sudah tidak suci lagi.
Saya pribadi percaya bahwa beriman kepada kitab-kitab Allah, khususnya kitab sebelum Al Quran, bukanlah beriman kepada yang ghaib, karena di dalam awal surah Al Baqarah dinyatakan bahwa iman kepada yang ghaib (Allah dan Malaikat) disebutkan secara terpisah dari beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan apa yang diturunkan sebelum Muhammad. Dengan kata lain, beriman kepada kitab sebelum Al Quran bukanlah sesuatu yang ghaib melainkan bisa diamalkan,

Lalu apa implikasinya?
Menurut saya, tidak ada dosa bagi seorang muslim untuk membaca Alkitab/Bible dan mempelajarinya. Kemudian kita beriman kepada bagian-bagian yang kita yakini kebenarannya, dan meninggalkan apa-apa yang kita ragukan kesahihannya. Insya Allah, dengan petunjuk Allah dan berpedoman kepada Al Quran sebagai batu ujian, kita bisa membedakan mana bagian yang benar, dan mana yang tidak valid, walaupun tetap saja akan ada bagian abu-abu yang kita tidak ketahui kebenarannya. Namun demikian, itu bukanlah alasan bagi muslim untuk menghindari Alkitab. Justru saya merasakan bahwa setelah saya banyak membaca Alkitab, pengetahuan keagamaan saya bertambah dan menjadi lebih baik, insya Allah.

Membaca dan mempelajari Alkitab, menurut saya merupakan manifestasi terbaik dari "beriman kepada Kitab sebelum Al Quran"